Menjelajahi keindahan geografis, batas wilayah, dan akar sejarah panjang dari masa Kerajaan Mataram Kuno hingga kini.
Desa Berta bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah ekosistem kehidupan yang harmonis. Terbentang seluas 478,450 Hektar, desa ini memadukan lanskap dataran rendah yang subur untuk pertanian dengan kontur perbukitan yang sejuk dan asri.
Secara administratif, denyut nadi kehidupan desa tersebar di 5 Dusun utama. Kelima dusun ini saling terhubung dalam semangat gotong royong:
Sebelah Utara
Kec. Purwareja Klampok
Sebelah Timur
Desa Sirkandi
Selatan & Barat
Desa Derik & Karangjati
“Terwujudnya tata kelola pemerintahan desa yang efektif dan akuntabel, serta terciptanya masyarakat yang harmonis, dinamis, dan sejahtera.”
Melakukan perbaikan kinerja aparatur pemerintah desa, guna peningkatan kualitas pelayanan publik yang lebih baik.
Menyelenggarakan tata pemerintahan yang bersih, jujur, dan berwibawa dengan mengutamakan peran serta masyarakat.
Meningkatkan derajat ekonomi masyarakat melalui kegiatan ekonomi produktif.
Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Melestarikan adat dan mengembangkan seni budaya lokal.
Menurut cerita yang dijelaskan oleh Den Juneng, seorang ahli sejarah dan tokoh Padepokan Carang Seket, Desa Berta awalnya dikenal sebagai Desa Paluh Amba. Nama ini tercatat dalam Babad Gumelem dan manuskrip-manuskrip lama yang diwariskan secara lisan maupun tulisan.
Perubahan nama dari Paluh Amba menjadi Desa Berta diperkirakan terjadi pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Nama baru ini diduga kuat berkaitan dengan dan diambil dari nama tokoh wanita berpengaruh bernama Ny Berta, yang hingga kini dihormati oleh warga setempat.
Dalam tradisi sejarah lokal, terdapat empat tokoh besar yang dianggap sebagai cikal bakal keberadaan Desa Berta.
Dipercaya sebagai tokoh berwibawa yang dikaitkan dengan Maha Patih Gajah Mada. Makam beliau berada di puncak wilayah Paluh Amba.
Seorang lurah di akhir era Majapahit hingga Mataram. Beliau dimakamkan di area situs Jambe Sewu.
Saudagar kaya asal Spanyol (Ki Selo Kerti). Legenda menyebutkan konfrontasinya dengan Panembahan Senopati.
Tokoh wanita yang namanya diabadikan menjadi nama desa. Makam beliau berada di dekat Makam Bolang di situs Jambe Sewu.
Dalam sejarahnya, di masa pemerintahan Kadipaten Merden, terdapat wilayah bernama Kali Bangkang yang dihapus dari arsip administratif karena dianggap sering membangkang. Sebagian wilayahnya kemudian disatukan dengan Desa Berta dan Desa Karangjati. Setelah Kadipaten Merden dipindahkan ke Cilacap, wilayah Berta menjadi bagian dari tanah perdikan Kademangan Gumelem.
Hingga kini, situs-situs bersejarah seperti makam Resi Tunggul Manik, Eyang Wijaya Murti, Ki Baron Sekeber, dan Ny Berta di Jambe Sewu menjadi tempat kunjungan dan ziarah bagi masyarakat lokal dan peziarah luar. Keberadaan situs-situs ini menjadi bukti kuat kedalaman sejarah dan akar budaya Desa Berta yang tetap hidup dalam tradisi masyarakatnya.